Kisah Heroik Pocut Meurah intan Bersenjata Rencong Menantang 18 orang tentara Marsose Belanda.
Pocut Di Biheue, pejuang perempuan Aceh menjadi buron Belanda setelah menggerakkan sejumlah penyerangan kepada pasukan marsose di wilayah Padang Tiji, Pidie masa perang kolonial. Dia terus dicari dan hendak ditangkap, tapi selalu lolos.
Perempuan ini bernama asli Pocut Meurah Intan. Kata Pocut menunjukkan ia keturunan bangsawan. Sementara kata Biheue merupakan nama daerah tempat tinggalnya. Beliau adalah anak perempuan dari bangsawan (uleebalang) Biheue. Kini, Biheue secara administratif masuk dalam wilayah Kecamatan Padang Tiji, Kabupaten Pidie. Di masa Kesultanan Aceh, Biheue masuk dalam wilayah Sagoe XXII Mukim, Aceh Besar.
Sampai suatu ketika, awal tahun 1900, Pocut tepergok seorang diri dengan 18 pasukan marsose di jalanan kawasan Padang Tiji, Pidie. Tapi, Pocut tak lari. Bermodal pedang dan rencongnya, malah nekat menyerang anggota patroli yang dipimpin Letnan TJ Veltman. “Kalau sudah begini, biarlah saya mati,” teriak Pocut Di Biheue.
Pocut mengayunkan pedangnya hingga mengenai beberapa marsose. Ia sendiri kena sabetan pedang di kepada dan bahunya, urat keningnya juga putus. Tubuhnya rebah bersimbah darah. Pocut Di Biheue sekarat.
Seorang marsose meminta izin pada komandannya, Veltman untuk menembak mati Pocut Di Biheue. Ia ingin mengakhiri penderitaan perempuan tersebut. Tapi Veltman membentak bawahannya itu. Ia membungkuk mengulurkan tangannya, mencoba membantu, namun Pocut Di Biheue meludahi muka Veltman. “Jangan kau pegang aku kafir celaka,” hardiknya.
Mendapat perlakuan seperti itu, Veltman dan pasukannya meninggalkan Pocut Di Biheue yang berlumuran darah seorang diri. Ia beranggapan biarlah perempuan itu meninggal sendiri di hadapan bangsanya.
Namun anggapan Veltman meleset. Ketika ia dan pasukannya kembali patroli dari Sigli ke Padangtiji beberapa minggu kemudian, ia mendengar Pocut bukan saja masih hidup, tapi berencana menyerang kembali pasukan Belanda bersama para pejuang di wilayah Biheue.
Veltman kemudian menuju kediaman Pocut Di Biheue bersama pasukannya, tapi kali ini bukan untuk menyerang. Ia membawa seorang dokter untuk mengobati Pocut. Namun, beliau tetap menolak diobati. Ia tak mau tubuhnya dipegang kafir Belanda. “Lebih baik aku mati dari pada disentuh kafir,” katanya.
Berita itu kemudian sampai kepada Kolonel Scheuer, seorang opsir yang pernah Berjaya merebut Puri Cakra Negara di Lombok. Ia khusus datang dari Lombok (Nusa Tenggara Barat) ke Aceh untuk bertemu dan memberi penghormatan kepada Pocut Di Biheue.
Sampai di Aceh, Berangkatlan Scheuer bersama Veltman dan pasukan pengawalnya ke kediaman Pocut Di Biheue. Scheuer berdiri di sisi Pocut Di Biheue yang masih terbaring sakit. Ia mengangkat tabik, menghormati Pocut.
Zentgraaff dalam Atjeh (1938) menulis: “Scheuer mengambil sikap bagai seorang prajurit. Ia mengangkat tabik tanda hormat, dengan meletakkan ujung jari-jarinya di topi petnya. Kemudian berkata pada Veltman yang paham bahasa Aceh, katakan bahwa saya sangat kagum padanya.”
Veltman pun menterjemahkan apa yang dikatakan Scheuer terhadap Pocut. Perempuan itu tersenyum. “Kaphe ini boleh juga,” katanya.
Hari-hari selanjutnya Pocut Di Biheue terus diawasi. Belanda tak ingin perempuan pemberani itu kembali menggerakkan perlawanan. Setelah sembuh, ia dipenjara di Kutaraja (Banda Aceh) bersama seorang putranya, Tuwanku Budiman. Sementara putranya yang satu lagi Tuwanku Nurdin terus menggerakkan perang gerilya.
Untuk meredakan perlawanan rakyat, serta menghilangkan pengaruhnya, Pocut Di Biheue kemudian diasingkan ke Blora melalui Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda Nomor 24 tanggal 6 Mei 1905. Srikandi Aceh itu meninggal di tempat pengasingannya pada 19 September 1937. Belanda menyebut Pocut Di Biheue sebagai heldhaftig, perempuan yang gagah berani. []
Foto Letnan T. J. Velman [tengah]]
bersama pasukan dan pembantunya di kawasan Aceh besar tahun 1898 Dok. KLTLV.
Komentar
Posting Komentar