Langsung ke konten utama

Gagal Jadi Pengantin tewas di Kenegrian Seunagan sekarang Kabupaten Nagan Raya.

Kisah Kematian Letnan H.P. De Bruyn Ditebas Pedang dan perutnya di Tombak, Gagal Jadi Pengantin tewas di Kenegrian Seunagan sekarang Kabupaten Nagan Raya.
·
Pedang, kelewang dan rencong selalu menjadi senjata pejuang Aceh dalam perang jarak dekat melawan kolonial Belanda. Banyak kematian tragis yang tercatat sejarah menimpa marsose, salah satunya yang menimpa Letnan H.P. de Bruyn (Bruijn), tewas menjelang pesta pernikahannya.

Baju pengantin untuk calon istri sudah dipesan dari Jawa. Tapi dari Seunagan, Nagan Raya, Letnan de Bruyn kembali ke Kutaraja (Banda Aceh) bukan untuk bersanding di pelaminan, melainkan untuk dikuburkan di Kerkhof Peucut. Nisannya masih tegak hingga kini.

De Bruyn merupakan perwira kepercayaan Gubernur Sipil dan Militer Kolonial Belanda di Aceh, Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz. Malah, calon istrinya tinggal di rumah van Heutsz (pendopo Gubernur Aceh sekarang), setelah ayah sang calon istri yang juga perwira tinggi Belanda di Aceh tewas dalam peperangan sebelumnya.

Bagi calon istri de Bruyn, ini adalah luka mendalam. Duka akibat kematian ayahnya dan kini duka dari kematian calon suaminya. Dua orang yang dicintainya itu sama-sama mati dalam perang Aceh. Ibu dan adiknya telah kembali ke Belanda membawa duka kematian ayahnya. Kini ia juga harus mengirim kabar ke sana, bahwa calon menantu yang diidam-idamkan ibunya itu juga telah mati di Aceh.

Kisah kematian de Bruyn pada Juli 1902 ditulis dalam beberapa buku sejarah kolonial Belanda di Aceh, selain oleh HC Zentgraaff, juga ditulis oleh Tjoetje, mantan pegawai kolonial Belanda di kantor Bestuurs Meulaboh.

Tjoetje (1972) mengutip kisah de Bruyn dari majalah angkatan darat Belanda, Ons Leger edisi Maret 1972, serta dari buku Generaal Swart Pacificator van Atjeh yang ditulis Du Croo dan Schmidt. Bahan bacaan itu diperoleh dari kiriman kawannya JHJ Brendgen dan D Toekamp Lammers di Haarlen dan Beverwijk, Belanda. Keduanya pernah bertugas dia Aceh.

Letnan de Bruyn tewas akibat perang jarak dekat dengan pejuang Aceh. Tubuhnya ditebas sabetan pedang. Sebelum mati ia, sempat berpesan kepada bawahanya, “zag aan mijn moeder, dat ik mijn best heb gedaan.” (katakan kepada ibuku, bahwa aku telah melakukan yang terbaik).

Dalam The Dutch Colonial War in Aceh, pada bagian Personalities, Monuments and Cemeteris yang berisi foto-foto perwira Belanda yang tewas di Aceh, dijelaskan Letnan de Bruyn tewas karena perutnya tembus ditombak pejuang Aceh, sekujur badannya juga terdapat 15 luka tebasan pedang, akibat pertempuran jarak dekat dengan pejuang Aceh di Gampong Leumo, Jeuram.

Zentgraaff dalam bukunya Atjeh (1938) menulis kematiannya dengan sangat detil dan menyentuh, sebegai berikut: Letnan de Bruyn melakukan operasi dengan satu pasukan infantri di antara Meulaboh dan Seunagan Sedangkan perkawinan de Bruyn, sudah ditetapkan, akan berlangsung pada hari Minggu depan, sehari setelah kepulangannya dari operasi itu.

Pada detik-detik akhir itu, datanglah sebuah berita, mengenai kegiatan gerombolan Pang Anu (pejuang Aceh). Kabar itu dianggap dapat dipercaya, sehingga akan terbayanglah kesempatan memukul lawan dengan membawa sukses besar.

Jenderal van Heutsz menyetujui pasukan de Bruyn untuk melakukan operasi ke sana. Karena itu, perkawinan Letnan de Bruyn akan ditunda seminggu. Ketika pasukan de Bruyn sampai di sungai kecil yang lebar dan dalam, pasukan harus menyeberang satu-satu melalui jembatan pohon pinang.

Akan tetapi, belum sampai seluruh pasukan berkumpul di seberang sungai. Di jalan setapak yang melingkar alang-alang setinggi orang dewasa, menggelegar bunyi letusan senapan dari hutan sebelah kanan. Secara refleks semua serdadu menolah ke kanan, dan mendadak dari arah kiri 60 orang Aceh menyergap pasukan itu. Rupanya, kabar adanya musuh kemarin itu hanya pancingan agar pasukan kompeni datang ke sungai tersebut.

Pertarungan itu merupakan pertempuran jarak dekat, satu lawan satu, di mana pihak lawan berada dalam posisi lebih menguntungkan. Pihak Belanda tahu betul, betapa orang-orang Aceh cekatan benar dalam memanfaatkan medan dan serangan. Serdadu marsose yang masih di seberang sungai tak bisa menembak, karena campur aduknya kawan dan lawan. Mereka berusaha melewati jembatan untuk membantu. Hal ini merupakan kehancuran mereka. Di seberang, satu per satu mereka disongsong lawan.

Letnan de Bruyn gugur bersama serdadu lainnya. Sementara orang-orang Aceh itu mengangkut kawan-kawannya yang terluka dan merampas semua senapan dan karaben.

Mayat de Bruyn dan pasukannya diangkut dengan kapal putih ke Kutaraja. Seorang Nyonya Kapten menelepon Jenderal van Heutsz memberitahu kapal itu masuk dengan bendera setengah tiang. Ketika ditanyakan siapa yang tewas, Nyonya Kapten itu menjawab “de Bruyn” dan dari ujung telepon di seberang sana terdengar ucapan “Ya Tuhan.”

Jenderal Van Heutsz harus menyampaikan kepada calon istri de Bruyn, bahwa tunangannya sudah tiba, tetapi tidak untuk bersanding di pelaminan pengantin, melainkan untuk dikuburkan di Peucut. Belakangan, Van Heutsz mengakui, itulah tugas menyampaikan pesan yang paling meresahkan yang pernah dilakukannya. []

Letnan H.P. De Bruy dan Kuburannya Foto Repro dari buku Dutch Colonial War in Aceh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KISAH LEGENDA JUGI TAPA, SI MURID DURHAKA

KISAH LEGENDA JUGI TAPA, SI MURID DURHAKA  Dari Sawang Aceh Utara Alkisah pada zaman dahulu, di sebuah perguruan yang terletak di Desa Lhok Drien, Sawang, Aceh Utara, tinggallah seorang pemuda gagah nan pandai. Saking pandainya, semua ilmu yang diajarkan oleh gurunya, Teungku Di Lhok Drien dapat dikuasai olehnya dalam sekejap. Bersebab itulah, kemudian ia dijuluki Malem Muda yang bermakna “orang yang berilmu di usia muda/belia”. Hal ini membuat Malem Muda diangkat menjadi tangan kanan gurunya, Teungku Di Lhok Drien. Suatu hari, Malem Muda dipanggil oleh gurunya untuk menghadap. Maka datanglah Malem Muda ke hadapan gurunya sambil bertanya,” Ada apa gerangan Teungku memanggil saya?” “Wahai Malem Muda, aku hendak memberimu suatu tugas. Akan tetapi, sebelumnya engkau harus berjanji dulu kepadaku bahwa engkau akan mematuhi segala yang kukatakan,” titah Tgk. Di Lhok Drien sembari mengelus jenggotnya. “Siap Teungku,” sahut Malem Muda. “Pasti ini tugas istimewa,” batinnya. Kemu...

Sejarah Kelam Pembantaian Sultan-Sultan Melayu di Tanah Sumatera

Tidak banyak generasi muda Indonesia yang tahu tentang sejarah kelam ini. Entah itu sengaja ditutupi atau memang dianggap tidak begitu penting. Namun kenyataannya ini merupakan salah satu kisah sejarah paling kelam yang pernah terjadi di Indonesia. Nyawa orang-orang tidak bersalah dianggap tidak berharga atas nama revolusi. Peristiwa ini bermula pada tahun 1946 silam. Terjadi gerakan sosial yang dilakukan oleh rakyat terhadap penguasa Kerajaan-Kerajaan Melayu di wilayah timur Sumatera.  Gerakan ini dikenal dengan Revolusi Sosial Sumatera Timur. Pemicu revolusi ini adalah gerakan kaum komunis dan nasionalis yang hendak menghapuskan sistem kerajaan yang dianggap antifeodalisme. Revolusi ini melibatkan mobilitas rakyat yang berujung pada pembunuhan anggota Keluarga Kesultanan-Kesultanan Melayu yang dianggap pro Belanda. Aksi kejam ini berawal di Kesultanan Kualuh. Sultan Al Hadji Moehammad Sjah, Sultan dari Kerajaan Melayu yang berada di Tanjung Pasir, Kabupaten Labuhanbatu ...