Langsung ke konten utama

Jajan Mageli Khas Martapura Kalsel

 Berbahan dasar kacang putih, mageli merupakan salah satu camilan asal Kota Martapura yang sampai saat masih banyak dinikmati oleh para pencinta kuliner.

Adapun ciri khas mageli asal Kota Martapura yang bisa dengan mudah ditemui di warung-warung tradisional adalah bentuknya yang kecil persis seperti berkedel kentang.

Namum bedanya mageli adalah gorengan memiliki tekstrur yang lebih halus sedikit mirip busa dengan bagian dalamnya yang berwarna putih.

Selain dijadikan camilan, mageli juga kerap dijadikan lauk pendamping makan seperti lontong, nasi putih, maupun soto.

Mageli memiliki rasa yang gurih hasil perpaduan antara kacang putih yang dihaluskan dicampur bumbu-bumbu dapur seperti bawang putih dan lainnya.

Harganya relatif terjangkau, hingga saat ini mageli masih bisa didapat dengan mulai dari Rp 500 per bijinya.

Biasanya mageli dijadikan camilan dengam tambahan saus cocolan yang disesuaikan dengan selera penikmat kuliner baik dengan rasa gurih manis maupun pedas.

Konon Mageli berasal dari jazirah arab yaitu Saudi Arabia.

Di Martapura mageli dijadikan sebagai makanan khas karena makanan ini berkaitan dengan Kesultanan Banjar dan sebagai bagian dari makanan tradisional saat upacara adat kesultanan.

Berikut resep pembuatan mageli lengkap dengan proses pembuatannya yang mungkin bisa dicoba pembaca di rumah.

Bahan-bahan

1/4 kg kacang kuku (kacang putih)

1 sdt adas

1 ruas kencur

1 butir telur (opsional)

3 siung bawang putih

3 sdm gula

1 sdt garam / secukupnya

1/2 sdt kaldu bubuk

sedikit air utk membleder

Cara Pembuatan :

- Rendam kacang selama kurang lebih 4 jam, kemudian kupas kulitnya.

- Campurkan semua bahan, kacang, telur, adas, kencur, bawang putih.

- Blender semua bahan lalu tambahkan sedikit air, jangan terlalu banyak karena adonan ini tidak menggunakan tepung, sehingga upayakan agar hasilnya seperti adonan perkedel.

- Masukkan ke dalam wadah, tambahkan gula, garam, dan kaldu bubuk.

- Goreng dalam minyak panas sampai terendam.

- Ambil adonan sedikit demi sedikit kurang lebih satu sendok teh.

- Goreng sampai kuning keemasan, angkat tiriskan.

- Sajikan dengan cocolan favorit.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KISAH LEGENDA JUGI TAPA, SI MURID DURHAKA

KISAH LEGENDA JUGI TAPA, SI MURID DURHAKA  Dari Sawang Aceh Utara Alkisah pada zaman dahulu, di sebuah perguruan yang terletak di Desa Lhok Drien, Sawang, Aceh Utara, tinggallah seorang pemuda gagah nan pandai. Saking pandainya, semua ilmu yang diajarkan oleh gurunya, Teungku Di Lhok Drien dapat dikuasai olehnya dalam sekejap. Bersebab itulah, kemudian ia dijuluki Malem Muda yang bermakna “orang yang berilmu di usia muda/belia”. Hal ini membuat Malem Muda diangkat menjadi tangan kanan gurunya, Teungku Di Lhok Drien. Suatu hari, Malem Muda dipanggil oleh gurunya untuk menghadap. Maka datanglah Malem Muda ke hadapan gurunya sambil bertanya,” Ada apa gerangan Teungku memanggil saya?” “Wahai Malem Muda, aku hendak memberimu suatu tugas. Akan tetapi, sebelumnya engkau harus berjanji dulu kepadaku bahwa engkau akan mematuhi segala yang kukatakan,” titah Tgk. Di Lhok Drien sembari mengelus jenggotnya. “Siap Teungku,” sahut Malem Muda. “Pasti ini tugas istimewa,” batinnya. Kemu...

Sejarah Kelam Pembantaian Sultan-Sultan Melayu di Tanah Sumatera

Tidak banyak generasi muda Indonesia yang tahu tentang sejarah kelam ini. Entah itu sengaja ditutupi atau memang dianggap tidak begitu penting. Namun kenyataannya ini merupakan salah satu kisah sejarah paling kelam yang pernah terjadi di Indonesia. Nyawa orang-orang tidak bersalah dianggap tidak berharga atas nama revolusi. Peristiwa ini bermula pada tahun 1946 silam. Terjadi gerakan sosial yang dilakukan oleh rakyat terhadap penguasa Kerajaan-Kerajaan Melayu di wilayah timur Sumatera.  Gerakan ini dikenal dengan Revolusi Sosial Sumatera Timur. Pemicu revolusi ini adalah gerakan kaum komunis dan nasionalis yang hendak menghapuskan sistem kerajaan yang dianggap antifeodalisme. Revolusi ini melibatkan mobilitas rakyat yang berujung pada pembunuhan anggota Keluarga Kesultanan-Kesultanan Melayu yang dianggap pro Belanda. Aksi kejam ini berawal di Kesultanan Kualuh. Sultan Al Hadji Moehammad Sjah, Sultan dari Kerajaan Melayu yang berada di Tanjung Pasir, Kabupaten Labuhanbatu ...